Latest posts
-
Satu Meja Ngobrol Sendiri, Satu Layar Menampar Pipi

Oleh: Hendri Chaniago. Saya sedang asyik bercerita. Menggebu-gebu. Tentang politik, tentang harga barang yang naik, tentang apa saja. Teman di depan saya diam. Matanya melotot. Ke layar HP. Saya panggil namanya. Dia tidak menoleh. Dia hanya senyum-senyum sendiri. Kadang mengernyit. Tegang sekali. Saya intip layarnya. Oh. Ternyata dia sedang menonton drama pendek asal China. Istilah…
-
Cintaku Mentok di Algoritma TikTok

Cerpen. Karya: Hendri Chaniago. Malam itu sepi. Kamar Boni gelap. Hanya ada satu cahaya: layar HP yang menempel ke muka. Matanya sembap. Kantung matanya tebal. Mirip ronda yang ronda tiga hari berturut-turut. Boni memang sedang ronda. Bukan jaga kampung. Tapi jaga algoritma TikTok. Semua karena jempol. Jempol yang kurang ajar. Tiga hari lalu, Boni sedang…
-
Menunjukkan Cinta Lewat Hal Kecil

Oleh: Selpi Keswita “Maaf, aku tidak pandai menghilangkan rasa yang pernah ada. Tetap saja rindu. Tak bisa kulawan sunyi ini. Biarlah ia tumbuh menjadi rimbun di hatiku. Sampai kau sadar bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki. Ini tentang keberanian untuk tetap menyimpan api, di tengah badai yang sudah lama memadamkan janji”. “Aku tak pandai menghilangkan…
-
Sawer Singa, Kaur Desa Berakhir Penjara

Oleh; Hendri Chaniago. Ada-ada saja. Parah! Itu reaksi pertama saya saat membaca berita ini. Kepala langsung geleng-geleng sendiri. Kalau Anda mendengar ceritanya, saya jamin Anda juga akan mengelus dada. Atau minimal ikut melongo.Ini tentang uang rakyat. Uang desa. Jumlahnya tidak main-main: Rp646 juta. Ludes. Habis tak berbekas. Uang segunung itu tidak dipakai untuk membangun jembatan.…
-
Melesat Berkat Teri dan Tempe

Oleh: Hendri Chaniago. Perut Anda sering tiba-tiba mules setelah minum susu segar. Tenang. Anda tidak aneh. Anda tidak sendirian. Bahkan, Anda adalah mayoritas. Anda adalah bagian dari kelompok elite terbesar di bumi: kaum intoleran laktosa. Angkanya tidak main-main. Lima miar orang dewasa di dunia ini senasib dengan Anda. Itu sekitar 70 persen penduduk bumi. Hebatnya…
-
TENANG DI USIA JELITA

Oleh : Selpi Keswita Usia menjelang 50 tahun, ini bukan lagi tentang ingin mengulang waktu, __tapi memberikan makna pada waktu yang tersisa. Aku berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Di usia ini, aku sadar setiap orang punya jalannya sendiri. Dulu, mungkin aku merasa tertinggal karena teman sudah punya jabatan ini dan itu. Tapi sekarang, aku…
-
Dua Tinta, Satu Rumah

Kopi sudah hampir dingin. Ampasnya sudah turun ke dasar gelas. Tapi obrolan kami justru makin hangat. Malam itu, kami tidak sedang membahas proyek miliaran. Bukan pula menggunjingkan politik tingkat tinggi. Kami hanya bicara soal hobi. Satu hobi yang sama-sama kami gilai: menulis.Menulis apa saja. Mulai dari keresahan harian, pikiran-pikiran receh, sampai ide-ide yang melintas begitu…