Latest posts
-
Mengubah Cerita Pahit Buah Impor Menjadi Peluang Lokal

Oleh: Hendri Chaniago.Selasa: 25:08:2026. “MBG bukan sekadar bagi-bagi piring makan, melainkan instrumen pergeseran ekonomi nasional dari kapitalis menuju kerakyatan. Saat pasar terbuka puluhan juta porsi per hari, pilihannya cuma dua: kita ambil peluang emas ini melalui agribisnis lokal, atau membiarkan devisa terbang ke luar negeri karena ketergantungan impor.” — Wayan Supadno Ada yang beda di…
-
Pria Tanpa HP yang Membangun Kota

Oleh: Hendri ChaniagoSelasa, 25:08:2026 Pagi itu, pertengahan tahun 2006-an. Di kawasan Bintan Centre, Batu 9. Saya duduk di kantornya. Saya diundangnya untuk wawancara. Bertatap muka langsung dengan owner CV Sinar Bahagia, Suyono—atau yang lebih akrab disapa Pak Yono. Waktu itu, zaman sudah mulai canggih. Orang-orang sibuk pamer ponsel. Pegang HP di mana-mana. Biar kelihatan seperti…
-
Bupati dari Surau

Oleh: Hendri Chaniago.Selasa : 25:08:2026. Mursini itu unik. Orang Gunung Toar. Lahir persis tiga hari sebelum tahun 1958 habis. Di tepian Sungai Kuantan dia tumbuh. Budayanya kuat. Agamanya kental. Kecilnya seperti anak kampung era itu: pagi sekolah, sore bantu orang tua, malam mengaji di surau. Tamat 1972, dia lulus SD di Desa Gunung. Lalu, geser…
-
Referensi Membentuk Persepsi

Penulis: H. Marwan Yohanis, S.Sos,. M.I.Kom Dua anak kecil sedang diajak pulang kampung oleh orang tuanya.Sebelumnya mereka belum pernah melihat kerbau. Pada saat sedang bermain, tiba-tiba dari arah yang berbeda, keduanya melihat seekor kerbau. Mereka terkejut lalu berlari pulang dan menceritakan apa yang mereka lihat kepada orang tuanya. Dengan penuh semangat Andra berkata, “Kerbau itu…
-
Belajar Al-Amin di Era Centang Biru

Oleh: Hendri Chaniago.Senin: 24:08:2026. Besok Selasa, 25 Agustus 2026. Kalender merah. Hari Maulid Nabi. Biasanya, jempol kita mendadak lincah. Sibuk copy-paste ucapan selamat di story WhatsApp. Pakai gambar kubah masjid plus ornamen hijau. Estetik. Setelah itu selesai. Kembali scrolling TikTok, mengeluh harga beras naik, atau merutuki jalan raya yang berlubang tapi tak kunjung ditambal. Padahal,…
-
Kami Tidak Berburu Kasus, Kami Merawat Harapan

Oleh: Hendri Chaniago.Senin: 24:08:2026. Layar ponsel redaksi TintaKita.com mendadak berkedip. Pesan WhatsApp masuk bertubi-tubi. Isinya senada. Banyak pembaca menanyakan alasan TintaKita jarang menulis berita investigasi. Ada juga yang penasaran kenapa kami tidak pernah membongkar kasus korupsi atau kejahatan. Saya tersenyum membaca pesan-pesan itu. Dalam hati, saya bersyukur. Pesan itu bukti bahwa TintaKita dibaca. Dicari. Dibutuhkan.…
-
Menatap Laut dari Teluk Kuantan

Oleh: Hendri Chaniago.Senin: 24:08:2026. Kisah Halim ini menarik. Sungguh. Dari anak susah di desa, lalu jadi raja sawit di Kuansing. Sempat duduk di kursi Wakil Bupati pula. Kini sayap bisnisnya malah mengepak sampai ke Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.Luar biasa. Banyak orang heran melihat orang dari tanah berlumpur bisa melompat sejauh itu. Jawabannya sederhana: petani itu…
-
Dari Ranking Buncit Jadi Petani 150 Miliar

Oleh: Hendri Chaniago.Senin: 24:08:2026. Hidup ini kadang suka melucu. Dan lucunya kerap tidak terduga. Anak ini lahir di Banyuwangi, 20 Juni 1967. Bapaknya bernama Suwarno, ibunya Tupon. Pekerjaan orang tuanya sederhana sekali: petani gurem. Garapan tanahnya cuma sepetak, pas-pasan buat makan besok. Sudah miskin, fisiknya diuji lagi. Sejak kecil gagap, bahkan hampir saja bisu. Saat…
-
Tuah Tanah Kudus: Dari Raja Gula Hingga Raja Jalanan

Oleh: Hendri Chaniago.Senin: 24:08:2026. Dulu dia cuma anak tukang rumput. Anak keenam dari 11 bersaudara. Rumahnya di Kudus. Melaratnya tidak tanggung-tanggung. Namanya Haryanto. Siapa sangka, bocah pencari rumput itu kelak punya bus berderet-deret. Lebih dari 300 unit. Gagah. Menguasai jalur Pantura. Tapi jalurnya tidak seperti jalan tol yang lurus dan mulus. Berkelok. Terjal. Tahun 1979,…
-
Secukupnya, Bukan Semaunya

Oleh: Hendri Chaniago.Minggu: 23;08:2026. Kopi itu nikmat. Asal secangkir. Coba kalau segalon. Mual. Bakso juga begitu. Semangkuk terasa gurih. Dagingnya kenyal. Kuahnya hangat. Tapi kalau disajikan sebaskom, itu bukan makan enak. Itu siksaan. Sama seperti pelangi. Ia indah justru karena cuma menumpang lewat. Paling sepuluh menit. Setelah hujan teduh. Lalu hilang. Bayangkan kalau pelangi mejeng…