Latest posts
-
Bupati yang Menantang Gelap dan Keterisolasian

Oleh: Hendri Chaniago.Rabu: 26:08:2026. Namanya Sukarmis. Di Kuansing, orang menyapa beliau dengan sebutan Datuk Politik. Dulu, dia bukan siapa-siapa. Bukan anak pejabat. Bukan lulusan akademi. Ia tumbuh dari kerasnya aspal pasar Teluk Kuantan. Hidup dari benturan keras di jalanan. Di sana, hukumnya cuma satu: berani dan dihormati. Naluri pasarnya kuat. Cara bicaranya tanpa basa-basi. Blak-blakan.…
-
Bupati dari Surau

Oleh: Hendri Chaniago.Selasa : 25:08:2026. Mursini itu unik. Orang Gunung Toar. Lahir persis tiga hari sebelum tahun 1958 habis. Di tepian Sungai Kuantan dia tumbuh. Budayanya kuat. Agamanya kental. Kecilnya seperti anak kampung era itu: pagi sekolah, sore bantu orang tua, malam mengaji di surau. Tamat 1972, dia lulus SD di Desa Gunung. Lalu, geser…
-
PAPAN CATUR

Penulis: H. Marwan Yohanis, S.Sos., M.I.Kom Diatas Papan Catur Berbeda.Di Dalam Kotak Semua Sama. Hidup ini barangkali hanyalah sebuah papan sunyi yang kita sebut permainan catur. Diatasnya, setiap bidak lahir dengan takdirnya sendiri. Di atas papan catur, kita mengenal perbedaan. Ada raja, ada menteri, ada benteng, kuda, gajah dan pion. Masing-masing memiliki fungsi, memiliki ruang…
-
Umpan Prabowo di Atas Podium: Cara Pintar Membaca Kawan dan Lawan

Oleh: Hendri Chaniago.Senin: 17:08:2026. Banyak orang geleng-geleng kepala. Tiap kali Pak Prabowo bicara di podium, besoknya jagat maya langsung heboh. Media riuh. Oposisi tepok jidat. Netizen sibuk bikin meme.Semua kompak bilang: “Waduh, Pak PS blunder lagi. Ngawur lagi.” Kenyataannya tidak sesederhana itu.Jangan terburu-buru menghakimi. Mari kita tarik napas panjang, seruput kopi item hangat, lalu pikirkan…
-
Ketika Garuda Terluka di Aceh

Oleh: Hendri Chaniago.Minggu: 16:08:2026. Nyes. Itu perasaan pertama waktu video itu lewat di layar HP saya. Lambang negara kita—Burung Garuda Pancasila—diinjak. Dibopong. Diperlakukan entah bagaimana di Aceh. Jujur saja, dada terasa sesak melihat itu. Garuda itu bukan sekadar benda mati. Dia simbol. Ada keringat, darah, dan air mata para pendiri bangsa yang dititipkan di sana.…
-
Salah ‘Lontiak’ di Astaka Mangkrak

Laporan: Hendri Chaniago.Minggu: 16:08:2026. Atapnya melengkung indah. Selembayung Melayu yang khas. Di atasnya bertengger kubah. Berundak-undak. Gaya Timur Tengah. Kombinasi yang anggun. Di atas kertas. Tapi cobalah berdiri di depannya hari ini. Di pinggir lapangan itu. Yang Anda lihat bukanlah keagungan, melainkan tumpukan sisa kayu bekisting. Puing-puing beton. Dan sisa perancah yang masih memeluk erat…
-
Menakar Kusut Menjelang Eforia Pacu Jalur

Oleh: Hendri ChaniagoRabu: 05:08:2026. Angin sore di Tepian Narosa berembus pelan. Santai betul. Di depan kami, Batang Kuantan mengalir tenang. Tampak dari kejauhan, pemacu jalur -jalur sedang latihan. Gemuruh perhelatan agung itu sudah terbayang di depan mata. Sudah lama kami tidak duduk melingkar seperti ini. Begitu ada kesempatan, jadilah. Kami bertukar pikiran. Lepas. Tanpa sekat…
-
Berebut Keringat di Simpang Sambung

Oleh: Hendri Chaniago.Ahad: 09:08:2026. Jalan Simpang Sambung menuju Sungai Bawang itu sudah lama bikin sesak dada. Kalau hujan, jalannya mirip kubangan kerbau. Kalau panas, debunya mengepul seperti asap dapur umum. Warga Singingi sudah kenyang makan janji. Maka ketika ada kabar PT Sinar Utama Nabati (SUN) mau mengucurkan dana CSR untuk membendung penderitaan itu. Membangun jalan…
-
Nasib Wakil Kepala Daerah: Dihapus atau Dipelihara?

Oleh: Hendri Chaniago.Sabtu: 08:08:2026. Pecah kongsi. Itu cerita lama. Cerita yang diulang-ulang setiap lima tahun sekali. Awalnya mesra. Saat daftar ke KPU, usap-usap dada. Gandengan tangan. Pakai baju warna senada. Senyum terkembang lebar-lebar di depan kamera. Begitu dilantik, beda cerita. Bulan pertama masih manis. Bulan ketiga mulai dingin. Masuk tahun kedua, ruang kerja wakil mulai…
-
Mobil Mogok

Oleh: Hendri Chaniago.Selasa: 04:08:2026. Pemerintah daerah itu kadang mirip sopir angkot gaek. Mobilnya mogok. Karburatornya kotor. Bensinnya habis. Bukannya cari teknisi, atau minimal beli bensin, mereka malah kompak turun. Eksekutif di kiri, legislatif di kanan. Lalu… dorong! Satu, dua, tiga… heehhh! Muka merah padam. Keringat mengucur deras sampai ke celana dalam. Berjalan sepuluh meter, napas…